
Menapaki
Jalan Menuju Halaman Istana Dewi Anjani
Pesona
pegunungan memang selalu menyuguhkan nuansa alam yang sempurna. Di sisi lain,
sering kali untuk menikmati wisata alam tersebut menuntut tenaga ekstra dalam
proses pencapaiannya. Namun jerih payah ini akan terbayar lunas oleh sebuah
kepuasan inderawi dan kesyukuran bila akhirnya titik puncak mampu tertaklukan.
Memang,
pegunungan hingga kini masih menjadi objek wisata yang cukup populer. Meski
tergeser dengan hiburan yang bersifat kekinian, seperti pusat perbelanjaan,
konser musik, kafe dan lain sebagainya,
yang notabene telah menjadi gaya hidup masyarakat modern.
Alam
pegunungan pun tak jarang hanya menjadi alternatif pilihan wisata atau hiburan
bagi masyarakat modern, ketika mereka bosan atau penat atas rutinitas
keseharian. Padahal, sangat bijak bila
wisata berbau alam tersebut dapat dijadikan pilihan utama. Tentunya
mengingat efek yang dirasakan bernilai positif bagi kesehatan masyarakat urban
yang terlalu akrab dengan suasana perkotaan pun beragam polusi.
Di antara
banyaknya pegunungan di Indonesia, ada satu gunung yang wajib Anda kunjungi dan
nikmati pesona alamnya, yaitu Gunung Rinjani. Lokasinya di Pulau Lombok, Nusa
Tenggara Barat. Rinjani yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di
Indonesia setelah Gunung Kerinci ini memiliki ketinggian 3.726 m dpl, terletak pada lintang 8º25′
LS dan 116º28′
BT, dan selama ini menjadi gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena
keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional
Gunung Rinjani (TNGR) yang memiliki luas sekitar 41.330 ha.
Untuk
mendaki Rinjani, ada beberapa jalur. Bagi pemula disarankan untuk mendaki
melewati jalur Sembalun Lawang karena mudah dijangkau dengan transportasi umum.
Selama perjalanan menuju Sembalun Lawang, pendaki akan disuguhi pemandangan
indah dari ngarai hijau yang hingga kini masih dihuni suku Sasak Tradisional,
suku asli Pulau Lombok.
Saat tiba
di Sembalun Lawang yang merupakan desa terakhir, pendaki wajib mendaftarkan
diri sebelum memulai perjalanan. Di sini juga tersedia jasa pemandu, porter,
dan penyewaan peralatan serta perbekalan untuk mendaki. Dari gerbang inilah
pendakian akan dimulai.
Rute dari
Sembalun Lawang cukup mudah, hal ini dikarenakan jalur pendakian terlihat jelas
pada siang maupun malam hari. Sepanjang perjalanan, pendaki akan disuguhi
pemandangan berupa padang savana yang menjadi vegatasi utama di lereng Gunung
Rinjani. Meski demikian, para pendaki disarankan untuk menempuh trek awal
perjalanan ini pada pagi hari. Selain untuk menghindari banyaknya hewan liar,
juga agar dapat menikmati perjalanan melewati bukitTeletubies, sebutan pendaki
bagi kontur padang savanna Rinjani yang berkelok-kelok serta naik-turun.
Salah satu
pendaki asal Solo, Defri, yang menjadi travelmate reporter Joglosemar,
mengatakan kondisi alam Rinjani seringkali berubah-ubah, namun secara umum
cuaca cukup panas hingga 32-35 derajat celcius seperti umumnya cuaca Pulau
Lombok. Beruntung, dalam pendakian ini, udara sejuk selalu terasa selama perjalanan. “Udara sejuk
khas pegunungan, tapi sengatan matahari langsung cukup terasa. Disarankan
selalu menggunakan sunblockuntuk menghindari iritasi kulit akibat perbedaan suhu,”
jelasnya.
Rinjani
memiliki pemandangan yang paling bagus jika dibandingkan dengan gunung-gunung
yang ada di Indonesia. Setiap tahun antara Juni – Agustus, Gunung Rinjani
sangat ramai dikunjungi para pendaki yang berasal dari berbagai daerah di
Indonesia hingga mancanegara. Perkumpulan mahasiswa pecinta alam juga kerap
melakukan pendakian.
Suhu udara
di puncak Rinjani pada Agustus rata-rata sekitar 20 derajat celcius, dengan
suhu terendah 12 derajat celcius. Sehingga bagi Anda yang ingin berkunjung pada
bulan tersebut harus lebih berhati-hati saat melakukan pendakian.
Sedikit
catatan penting bagi setiap pendaki yang akan menjelajahi alam Gunung Rinjani.
Pendaki pemula maupun expert harus selalu berada dalam sebuah kelompok, meski
tak harus selalu berjalan beriringan, namun kebersamaan adalah hal yang
penting. Selain untuk keamanan, juga sebagai pengusir rasa sepi sepanjang
perjalanan yang dapat menimbulkan stres dan kelelahan karena trek yang demikian
panjang. Selain itu, ketersediaan bekal air minum haruslah cukup sebab,
sepanjang perjalanan di trek ini, pendaki tidak akan menemui sumber air.
Pendakian
Rinjani dapat dilakukan dalam sehari, namun harus dilakukan dengan jadwal yang
sangat ketat agar tiba di Plawangan (pos terakhir) sebelum senja. Namun idealnya,
pendakian hingga ke Plawangan dilakukan selama dua hari, karena dapat menghemat
tenaga.
Selama
perjalanan menuju Plawangan, pendaki akan melewati tiga pos utama dan tiga pos
ekstra. Bila melakukan perjalanan selama dua hari, pendaki disarankan menginap
di pos tiga di Kali Mati yang merupakan bekas aliran lahar Gunung Rinjani,
sebelum kemudian menempuh perjalanan melelahkan di Bukit Penyesalan.
Di pos ini,
terdapat sumber air namun sering kali kering karena minimnya hujan yang turun
di wilayah Rinjani. Lokasi ini cukup aman untuk menginap karena Rinjani tak
seaktif beberapa tahun lalu. Hanya yang perlu diwaspadai adalah keberadaan kera
liar yang sering mencuri barang-barang maupun perbekalan milik pendaki. “Jangan
pernah memberikan makanan atau barang apapun kepada seekor kera. Hal ini akan
memicu kera lain untuk mendekat dan mengambil perbekalan saat kita lengah,”
ujar Dewa, salah satu guide.
Selama jeda
istirahat, baik menginap maupun hanya leyeh-leyeh sejenak, sebaiknya dimanfaatkan untuk mengisi
tenaga dan menata kembali barang bawaan. Terlebih, setelah pos ini, pendaki
akan menghadapi trek yang didominasi dengan tanjakan terjal yang ada di Bukit
Penyesalan.
Bukit
Penyesalan, Tangga Menuju Istana Dewi Anjani
Gunung
Rinjani menyimpan sejumlah misteri. Salah satu misteri terbesarnya adalah Dewi
Anjani yang dipercaya masyarakat Pulau Lombok sebagai penguasa gunung berapi
kedua di Indonesia itu. Bahkan, puncak Rinjani di ketinggian 3.726 mdpl turut
dipercaya menjadi halaman istananya. Untuk menuju halaman istana itu, setiap
pendaki akan melewati ‘tangga’ berupa bukit yang dinamai ‘Bukit Penyesalan.
Terik
matahari belum tergelincir ke ufuk barat, namun perjalanan harus dilanjutkan.
Usai melalui pos Kali Mati, pendaki akan disuguhkan trek menanjak khas Bukit
Penyesalan. Menurut salah satu guide, Dewa, disebut demikian lantaran bukit
yang didaki tidak kunjung habis. “Setiap kali mendapati trek yang sedikit
mendatar, pendaki akan menemui tanjakan yang lebih tinggi lagi,” kata dia.
Benar saja,
tanjakan yang dilalui tak kunjung habis. Pendakian sedikit terbantu dengan
adanya vegetasi berupa pohon-pohon cemara yang tinggi dan besar. Selain dapat
menjadi pijakan, pohon-pohon ini melindungi dari panas dan hembusan angin yang kian
kencang.
Terdapat
tiga bukit yang menjadi deretan Bukit Penyesalan. Setiap bukitnya dihubungkan
trek mendatar sekitar 10 hingga 15 meter. Pendakian hingga ke pos Plawangan
memakan waktu sekitar 3 hingga 5 jam pendakian dengan trek menanjak. Namun di trek
ini pendaki harus berhati-hati lantaran adanya kabut yang mulai turun sekitar
pukul 14.30WITA. Persiapan jaketwaterproof sangat diperlukan untuk menjaga suhu
tubuh.
Sesampainya
di pos Plawangan, pendaki dapat beristirahat di tanah datar yang terletak di
seberang jurang, berbatasan dengan danau
Segara Anak. Di pos ini, pendaki dapat mendirikancamp sebelum meneruskan
perjalanan ke puncak.
Pendakian
ke puncak Rinjani idealnya dilakukan pada dini hari. Perjalanan menuju puncak
memakan waktu sekitar 6 jam dengan trek berpasir dan batuan terjal. Tanah labil
serta kubangan panjang bekas aliran lava sering kali ditemui. Hal ini cukup
menyulitkan terlebih ditempuh pada keadaan gelap.
Belum habis
kelelahan yang menjalar di badan, pendakian semakin berat dilalui karena angin
kencang yang berhembus hingga 2.300-an hPa. Suhu di trek ini hanya 10 derajat
celcius, cukup dingin apalagi kondisi
trek minim pohon sebagai pelindung. Kesadaran diri dan menjaga suhu badan agar
stabil perlu diperhatikan mengingat di kanan dan kiri trek berupa jurang yang
terjal dan berbahaya, mulai pada ketinggian 2.900-an mdpl .
Jelang fajar, kelelahan seolah terbayar dengan pemandangan indah khas puncak gunung yang
mulai terlihat. Di ketinggian 3.276 Mdpl, suguhan eksotisme danau Segara Anak
mampu menjadi penyemangat meski hanya samar
kehijauan.
Mendekati
puncak, trek terjal terasa berat. Dominasi pasir dan trek kian menyempit,
memaksa andrenalin mengalir kencang. Di
ketinggian 3.500 hingga 3.600 Mdpl, pendaki akan menemui trek leter S yang
cukup sulit dan bercadas, perjalanan puncak pun sungguh menantang. Banyak
pendaki yang memutuskan untuk berhenti atau kembali turun. Untuk itu, semangat
dan tekad baja harus terus terpatri di hati dan menjadi modal utama agar mampu
mencapai puncak.
Seluruh
perjuangan berat itupun rasanya tak akan sebanding, ketika paparan halaman
istana Dewi Anjani yang begitu disegani masyarakat Pulau Lombok mampu teraih.
Pemandangan alam yang luar biasa elok terpampang begitu dekat. Di ufuk barat,
lamat-lamat puncak Gunung Gede di Pulau Bali menyapa pendaki. Jika beruntung,
pendaki akan melihat puncak tertinggi di Indonesia, Cartenz, Pegunungan Jaya
Wijaya. Tetapi, pendaki tidak boleh berlama-lama di puncak Rinjani. Pasalnya,
angin akan semakin kencang dan membatasi pendakian hingga pukul 08.00WITA saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar