Mario Walking

Kamis, 09 Oktober 2014

Rinjani, Indahnya 3726 mdpl


Menapaki Jalan Menuju Halaman Istana Dewi Anjani
Pesona pegunungan memang selalu menyuguhkan nuansa alam yang sempurna. Di sisi lain, sering kali untuk menikmati wisata alam tersebut menuntut tenaga ekstra dalam proses pencapaiannya. Namun jerih payah ini akan terbayar lunas oleh sebuah kepuasan inderawi dan kesyukuran bila akhirnya titik puncak mampu tertaklukan.
Memang, pegunungan hingga kini masih menjadi objek wisata yang cukup populer. Meski tergeser dengan hiburan yang bersifat kekinian, seperti pusat perbelanjaan, konser musik,  kafe dan lain sebagainya, yang notabene telah menjadi gaya hidup masyarakat modern.
Alam pegunungan pun tak jarang hanya menjadi alternatif pilihan wisata atau hiburan bagi masyarakat modern, ketika mereka bosan atau penat atas rutinitas keseharian. Padahal, sangat bijak bila  wisata berbau alam tersebut dapat dijadikan pilihan utama. Tentunya mengingat efek yang dirasakan bernilai positif bagi kesehatan masyarakat urban yang terlalu akrab dengan suasana perkotaan pun beragam polusi.
Di antara banyaknya pegunungan di Indonesia, ada satu gunung yang wajib Anda kunjungi dan nikmati pesona alamnya, yaitu Gunung Rinjani. Lokasinya di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Rinjani yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia setelah Gunung Kerinci ini memiliki ketinggian 3.726 m dpl,  terletak pada lintang 8º25 LS dan 116º28 BT, dan selama ini menjadi gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang memiliki luas sekitar 41.330 ha.
Untuk mendaki Rinjani, ada beberapa jalur. Bagi pemula disarankan untuk mendaki melewati jalur Sembalun Lawang karena mudah dijangkau dengan transportasi umum. Selama perjalanan menuju Sembalun Lawang, pendaki akan disuguhi pemandangan indah dari ngarai hijau yang hingga kini masih dihuni suku Sasak Tradisional, suku asli Pulau Lombok.
Saat tiba di Sembalun Lawang yang merupakan desa terakhir, pendaki wajib mendaftarkan diri sebelum memulai perjalanan. Di sini juga tersedia jasa pemandu, porter, dan penyewaan peralatan serta perbekalan untuk mendaki. Dari gerbang inilah pendakian akan dimulai.
Rute dari Sembalun Lawang cukup mudah, hal ini dikarenakan jalur pendakian terlihat jelas pada siang maupun malam hari. Sepanjang perjalanan, pendaki akan disuguhi pemandangan berupa padang savana yang menjadi vegatasi utama di lereng Gunung Rinjani. Meski demikian, para pendaki disarankan untuk menempuh trek awal perjalanan ini pada pagi hari. Selain untuk menghindari banyaknya hewan liar, juga agar dapat menikmati perjalanan melewati bukitTeletubies, sebutan pendaki bagi kontur padang savanna Rinjani yang berkelok-kelok serta naik-turun.
Salah satu pendaki asal Solo, Defri, yang menjadi travelmate reporter Joglosemar, mengatakan kondisi alam Rinjani seringkali berubah-ubah, namun secara umum cuaca cukup panas hingga 32-35 derajat celcius seperti umumnya cuaca Pulau Lombok. Beruntung, dalam pendakian ini, udara sejuk  selalu terasa selama perjalanan. “Udara sejuk khas pegunungan, tapi sengatan matahari langsung cukup terasa. Disarankan selalu menggunakan sunblockuntuk menghindari iritasi kulit akibat perbedaan suhu,” jelasnya.
Rinjani memiliki pemandangan yang paling bagus jika dibandingkan dengan gunung-gunung yang ada di Indonesia. Setiap tahun antara Juni – Agustus, Gunung Rinjani sangat ramai dikunjungi para pendaki yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Perkumpulan mahasiswa pecinta alam juga kerap melakukan pendakian.
Suhu udara di puncak Rinjani pada Agustus rata-rata sekitar 20 derajat celcius, dengan suhu terendah 12 derajat celcius. Sehingga bagi Anda yang ingin berkunjung pada bulan tersebut harus lebih berhati-hati saat melakukan pendakian.
Sedikit catatan penting bagi setiap pendaki yang akan menjelajahi alam Gunung Rinjani. Pendaki pemula maupun expert harus selalu berada dalam sebuah kelompok, meski tak harus selalu berjalan beriringan, namun kebersamaan adalah hal yang penting. Selain untuk keamanan, juga sebagai pengusir rasa sepi sepanjang perjalanan yang dapat menimbulkan stres dan kelelahan karena trek yang demikian panjang. Selain itu, ketersediaan bekal air minum haruslah cukup sebab, sepanjang perjalanan di trek ini, pendaki tidak akan menemui sumber air.
Pendakian Rinjani dapat dilakukan dalam sehari, namun harus dilakukan dengan jadwal yang sangat ketat agar tiba di Plawangan (pos terakhir) sebelum senja. Namun idealnya, pendakian hingga ke Plawangan dilakukan selama dua hari, karena dapat menghemat tenaga.
Selama perjalanan menuju Plawangan, pendaki akan melewati tiga pos utama dan tiga pos ekstra. Bila melakukan perjalanan selama dua hari, pendaki disarankan menginap di pos tiga di Kali Mati yang merupakan bekas aliran lahar Gunung Rinjani, sebelum kemudian menempuh perjalanan melelahkan di Bukit Penyesalan.
Di pos ini, terdapat sumber air namun sering kali kering karena minimnya hujan yang turun di wilayah Rinjani. Lokasi ini cukup aman untuk menginap karena Rinjani tak seaktif beberapa tahun lalu. Hanya yang perlu diwaspadai adalah keberadaan kera liar yang sering mencuri barang-barang maupun perbekalan milik pendaki. “Jangan pernah memberikan makanan atau barang apapun kepada seekor kera. Hal ini akan memicu kera lain untuk mendekat dan mengambil perbekalan saat kita lengah,” ujar Dewa, salah satu guide.
Selama jeda istirahat, baik menginap maupun hanya leyeh-leyeh  sejenak, sebaiknya dimanfaatkan untuk mengisi tenaga dan menata kembali barang bawaan. Terlebih, setelah pos ini, pendaki akan menghadapi trek yang didominasi dengan tanjakan terjal yang ada di Bukit Penyesalan.

Bukit Penyesalan, Tangga Menuju Istana Dewi Anjani
Gunung Rinjani menyimpan sejumlah misteri. Salah satu misteri terbesarnya adalah Dewi Anjani yang dipercaya masyarakat Pulau Lombok sebagai penguasa gunung berapi kedua di Indonesia itu. Bahkan, puncak Rinjani di ketinggian 3.726 mdpl turut dipercaya menjadi halaman istananya. Untuk menuju halaman istana itu, setiap pendaki akan melewati ‘tangga’ berupa bukit yang dinamai ‘Bukit Penyesalan.
Terik matahari belum tergelincir ke ufuk barat, namun perjalanan harus dilanjutkan. Usai melalui pos Kali Mati, pendaki akan disuguhkan trek menanjak khas Bukit Penyesalan. Menurut salah satu guide, Dewa, disebut demikian lantaran bukit yang didaki tidak kunjung habis. “Setiap kali mendapati trek yang sedikit mendatar, pendaki akan menemui tanjakan yang lebih tinggi lagi,” kata dia.
Benar saja, tanjakan yang dilalui tak kunjung habis. Pendakian sedikit terbantu dengan adanya vegetasi berupa pohon-pohon cemara yang tinggi dan besar. Selain dapat menjadi pijakan, pohon-pohon ini melindungi dari panas dan hembusan angin yang kian kencang.
Terdapat tiga bukit yang menjadi deretan Bukit Penyesalan. Setiap bukitnya dihubungkan trek mendatar sekitar 10 hingga 15 meter. Pendakian hingga ke pos Plawangan memakan waktu sekitar 3 hingga 5 jam pendakian dengan trek menanjak. Namun di trek ini pendaki harus berhati-hati lantaran adanya kabut yang mulai turun sekitar pukul 14.30WITA. Persiapan jaketwaterproof sangat diperlukan untuk menjaga suhu tubuh.
Sesampainya di pos Plawangan, pendaki dapat beristirahat di tanah datar yang terletak di seberang jurang,  berbatasan dengan danau Segara Anak. Di pos ini, pendaki dapat mendirikancamp sebelum meneruskan perjalanan ke puncak.
Pendakian ke puncak Rinjani idealnya dilakukan pada dini hari. Perjalanan menuju puncak memakan waktu sekitar 6 jam dengan trek berpasir dan batuan terjal. Tanah labil serta kubangan panjang bekas aliran lava sering kali ditemui. Hal ini cukup menyulitkan terlebih ditempuh pada keadaan gelap.
Belum habis kelelahan yang menjalar di badan, pendakian semakin berat dilalui karena angin kencang yang berhembus hingga 2.300-an hPa. Suhu di trek ini hanya 10 derajat celcius, cukup dingin apalagi  kondisi trek minim pohon sebagai pelindung. Kesadaran diri dan menjaga suhu badan agar stabil perlu diperhatikan mengingat di kanan dan kiri trek berupa jurang yang terjal dan berbahaya, mulai pada ketinggian 2.900-an mdpl .
Jelang  fajar, kelelahan seolah terbayar dengan  pemandangan indah khas puncak gunung yang mulai terlihat. Di ketinggian 3.276 Mdpl, suguhan eksotisme danau Segara Anak mampu menjadi penyemangat meski hanya samar  kehijauan.
Mendekati puncak, trek terjal terasa berat. Dominasi pasir dan trek kian menyempit, memaksa andrenalin  mengalir kencang. Di ketinggian 3.500 hingga 3.600 Mdpl, pendaki akan menemui trek leter S yang cukup sulit dan bercadas, perjalanan puncak pun sungguh menantang. Banyak pendaki yang memutuskan untuk berhenti atau kembali turun. Untuk itu, semangat dan tekad baja harus terus terpatri di hati dan menjadi modal utama agar mampu mencapai puncak.
Seluruh perjuangan berat itupun rasanya tak akan sebanding, ketika paparan halaman istana Dewi Anjani yang begitu disegani masyarakat Pulau Lombok mampu teraih. Pemandangan alam yang luar biasa elok terpampang begitu dekat. Di ufuk barat, lamat-lamat puncak Gunung Gede di Pulau Bali menyapa pendaki. Jika beruntung, pendaki akan melihat puncak tertinggi di Indonesia, Cartenz, Pegunungan Jaya Wijaya. Tetapi, pendaki tidak boleh berlama-lama di puncak Rinjani. Pasalnya, angin akan semakin kencang dan membatasi pendakian hingga pukul 08.00WITA saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar